Nusantaravoices – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Senin pagi di Jakarta mengalami penguatan tipis sebesar 9 poin atau 0,05 persen. Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat berada di level Rp16.787 per dolar AS, sedikit lebih kuat dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang tercatat pada Rp16.796 per dolar AS.
Penguatan ini terjadi meskipun pasar global sedang berada dalam ketidakpastian akibat beberapa faktor ekonomi yang memengaruhi pergerakan mata uang dunia. Penguatan rupiah ini dipandang sebagai respons positif terhadap sentimen pasar domestik yang cukup stabil, ditambah dengan berbagai kebijakan ekonomi yang terus dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Ekonom memprediksi bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan terus dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal seperti kebijakan moneter global, kondisi pasar energi, serta dinamika perdagangan internasional.
Meskipun demikian, penguatan nilai tukar rupiah di awal pekan ini memberikan harapan bagi pemulihan ekonomi Indonesia yang sedang berusaha bangkit dari dampak pandemi global.
Beberapa analis juga mengingatkan bahwa meskipun penguatan ini terbilang kecil, perubahan positif terhadap nilai tukar rupiah dapat berdampak pada sektor-sektor yang bergantung pada impor, seperti bahan baku industri, yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi domestik.
Namun, para pelaku pasar masih akan memantau perkembangan lebih lanjut, terutama terkait dengan kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia serta situasi ekonomi global yang terus berkembang, untuk melihat apakah penguatan rupiah ini dapat berlanjut atau justru akan kembali melemah.
